Blog

Cara Membaca Lebih Cepat

0 komentar

Berapa banyak tulisan yang bisa Anda baca dalam setiap kesempatan membuka website? Jika dalam satu jam biasanya Anda membaca hanya satu dua tulisan sebanyak 1.000 karakter misalnya, maka hanya sedikit hal yang bisa Anda peroleh dari sana. Lantas bagaimana caranya agar dalam satu jam tersebut Anda bisa mendapatkan tiga atau bahkan empat kali lebih banyak daripada yang biasa Anda dapat?

James I. Brown (Anda Bisa Membaca Lebih Cepat, dalam “Sukses dan Prestasi”, Volume III, Mutiara Utama, Jakarta, 1992) mengajukan pertanyaan, bagaimana kecepatan Anda sebagai pembaca? Apakah Anda membaca 200 kata per menit, yang terlalu lambat, atau 260 kata, yang merupakan nilai rata-rata, atau 400 kata, yang dinilai baik sekali? Untuk mengetahuinya, cobalah pada suatu ketika Anda membaca tepat selama satu menit dan hitunglah jumlah baris yang Anda baca, lalu kalikan dengan jumlah rata-rata kata per baris.

Membaca cepat itu penting sekali. Eksekutif puncak rata-rata punya waktu membaca empat jam sehai. Apa pun persoalannya, seseorang telah menulis sesuatu yang memberikan nwawasan dan bantuan yang berharga.

Lipatkan kecepatan

Tetapi apakah Anda bisa menyediakan waktu untuk berlari sejajar dengan kepesatan pengetahuan ini? Bagaimana Anda menjadikan membaca sebagai alat untuk mencapai sukses pribadi, bisnis dan profesional? Itulah yang kemudian diperlihatkan James I Brown berikutnya:

Kita andaikan sekarang Anda membaca dengan kecepatan 250.k.p.m., dan Anda rata-rata-rata membaca satu jam sehari. Lipat duakan kecepatan Anda, dan boleh dikatakan Anda memperoleh tujuh jam ekstra seminggu. Sekarang Anda bisa melakukan 14 jam membaca hanya dalam waktu tujuh jam. Lipat tigakan atau lipat empatkan kecepatan Anda, dan Anda mendapat sampai 21 jam seminggu.

Bagaimana ini bisa dilakukan? Dengan menyingkirkan semua rem. Anda tidak akan bisa membayangkan menyetir mobil dengan rem tangan ditarik dan rem kaki diinjak. Namun sebagai pembaca mungkin ada beberapa rem yang memperlambat Anda.

Salah satu rem membaca yang sangat lazim adalah mundur – yaitu melihat kembali ke belakang sesekali pada sesuatu yang sudah dibaca. Ini sama saja melangkah ke belakang setiap habnis berjalan maju beberapa meter – ini sama sekali bukan cara maju ke depan dengan cepat. Mundur ke belakang mungmkin hanya merupakan kebiasaan belaka, kurangnya keyakinan, kekurangan kosa kata, atau karena terlewat satu kata atau satu kalimat. Lihat apa akibatnya terhadap kalimat yang rumit seperti ini, yang rupanya lebih kusut daripada bias any sementara mata berkali-kali muncur ke belakang. Jelas sekali hal itu mengacaukan kecepatan membaca, serta pengertian dan efisiensinya.

Foto gerakan mata kira-kira 12.000 orang membaca menunjukkan bahwa para mahasiswa perguruan tinggi mundur ke belakang rata-rata 15 kali dalam membaca hanya 100 kata. Murid kelas sembilan rata-rata-rata mundur 20 kali. Singkatnya, kebiasaan mundur ke belakang ketika membaca menghabiskan seperenam atau lebih dari waktu membaca yang sangat berharga, menjadikan kebiasaan tersebut suatu factor penghambat utama. Lepaskan re mini dan nikmati luncuran seketika dalam kecepatan membaca – barangkal sampai lebih dari 100 k.p.m.

Jangan "disuarakan"

Rem yang kedua adalah “menyuarakan”– mengucapkan kata-kata kepada diri sendiri sambil membaca. Sebagai pembaca pemula, kita semua diajar untuk mengucapkan kata-kata, suku kata, bahkan huruf. Bekas-bekas kebiasaan ini kerap kali tidak hilang. Menyauarakan dengan bibir komat-kamit memperlambat membaca sampai pada sampai pada kecepatan bicara, mungkin di bawah 200 k.p.m. Untuk membuat diagnosis, letakkan jari pada bibir sementara Anda membaca tanpa suara. Apakah Anda merasakan suatu gerakan? Untuk menghilangkan kebiasaan ini, letakkan jari untuk mengingatkan bibir ketika Anda membaca.

Menyuarakan apa yang dibaca pada rongga suara jauh lebih lazim dan tidak begitu kentara. Hentikanlah kebiasaan ini dengan meletakkan ibu jari dan telunjuk perlahan pada setiap sisi rongga suara (kerongkongan). Kalau Anda membaca tanpa suara masih bisa dirasakan gerakan samar-samar, maka Anda sudah mengetahui masalah Anda.

Rem utama yang ketiga adalah membaca “kata demi kata”. Foto gerakan mata memperlihatkan, bahwa dalam membaca mata bergerak tersentak-sentak sepanjang baris cetakan , membuat rangkaian perhentian singkat untuk memungkinkan pembacaan satu blok cetakan dalam satu waktu. Penelitian menunjukkan bahwa tanpa pelatihan khusus, banayk mahasiswa perguruan tinggi yang menjadi pembaca kata demi kata, hanya mengambil 1,1 kata pada setiap pemusatan perhatian atau pandangan. Jelas sekali satu cara untuk melipatduakan atau melipattigakalikan kecepatan Anda adalah dengan belajar mengambil; dua atau tiga kata sekali pandang.

Itulah dia – tiga penyebab utama yang menghambat efisiensi membaca. Untunglah, hanya dengan satu prinsip kunci, yang diterapkan semestinya, Anda akan tertolong untuk mengatasinya.

Setiap kursus peningkatan kekmampuan membaca yang berhasil (di Amerika pada awal 1990-an biayanya berkisar dari $30 sampai $175), sangat tergantung pada prinsip-kunci membaca lebih cepat daripada kecepatan rata-rata yang enak. Hal itu secara otomatis mengurangi kebiasaan mundur ke belakang. Anda maju ke depan terlalu cepat sehingga tidak ada kesempatan menolah ke belakang lagi. Lebih lanjut, kesempatan Anda juga tidak begitu banyak lagi untuk menyuarakan apa yang dibaca, sehingga kebiasan yang buruk ini juga mulai lenyap. Akhirnya, tambahan kecepatan memaksa Anda untuk memusatkan perhatian pada kelompok kata, bukan pada satu kata tunggal.

Jangan pedulikan dulu pengertian

Letakkan prinsip ini untuk diletakkan pada rencana 20 hari berikut. Untuk memulai, pilihlah buku ringan yang menarik, dan selama 15 menit setiap hari, tidak boleh gagal, bacalah bacalah buku tersebut dengan kecepatan yang enak, tanpa harus meresahkan pengertian. Itu akan dating kemudian, setelah Anda memperoleh tambahan pengalaman dan keterampilan pada kecepatan membaca yang baru. Pada akhir setiap latihan 15 menit, suruhlah orang lain mencatat waktunya tepat dua menit, supaya Anda bisa menghitung kemajuan Anda.

Jika kecepatan di atas kecepatan yang enak ini tidak melelahkan, majulah terus ke kecepatan yang lebih tinggi, dengan mengorbankan lebih banyak pengertian untuk sementara itu. Sepuluh hari latihan seperti ini akan memberikan perubahan kecepatan yang diinginkan. Kadang-kadang, kecepatan Anda mungkin berkurang atau bahkan merosot sama sekali. Kalau kecepatan membaca turun atau merosot lebih dari dua hari, Anda tidak memberikan dorongan yang cukup besar kepada diri sendiri.

Kalau Anda masih belum berhasil mencapai sasaran, perpanjang saja rencana Anda. Jika diikuti dengan tekun, rencana ini bisa memberi Anda waktu ekstra 21 jam seminggu.

Penutup:

Pada bagian lain tulisan James I. Brown tentang Anda Bisa Membaca Lebih Cepat disebutkan pula beberapa petunjuk tambahan untuk mempercepat kemampuan membaca secara efisien. Pada kesempatan lain, akan saya tuliskan untuk Anda.

oleh: Duto Sri Cahyono

Read more

Undangan Jelajah Museum Bank Indonesia

0 komentar

Sudah pernah dengar belum kalau Bank Indonesia memiliki museum? Museum Bank Indonesia (MBI) adalah museum nasional yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara, Jakarta dan menempati area Gedung Bank Indonesia Kota (depan stasiun Beos Kota). Museum ini mulai dibuka pada 15 Desember 2006 dan diresmikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah.

Museum ini tidak memungut biaya masuk alias gratis dan menampilkan berbagai informasi tentang sejarah Bank Indonesia sejak berdirinya pada tahun 1953, sampai dengan meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan-kebijakannya bagi masyarakat di masa lalu. Selain itu terdapat pula fakta dan benda sejarah dari masa jauh sebelum Bank Indonesia berdiri yaitu pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara dan bagaimana mereka melakukan transaksi dagang dengan bangsa lain. Dalam beberapa bagiannya juga ditampilkan contoh-contoh uang yang pernah digunakan di Indonesia sejak masa tahun 1500-an.

Gimana? Cukup Bikin Penasaran kan?, Ayo kita rame-rame berkunjung ke Museum Bank Indonesia yuksss, hanya sekitar dua jam kita bisa dapat pengetahuan, gratis lagi. Rombongan Wikimu akan berjalan-jalan ke Museum Bank Indonesia pada:

Hari : Minggu

Tanggal : 21 Desember 2008

Waktu : 10.00 WIB

Tempat : Gedung Bank Indonesia Kota Jl. Pintu Besar Utara, Jakarta (depan stasiun Beos Kota).

Maksimal Pendaftar : 75 Orang

Buat kamu yang ingin bergabung di acara ini bisa mendaftarkan diri melalui kolom komentar artikel ini http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12103 atau juga bisa kirim email ke saya di ikka[at]intimedia.com. Kamu juga bisa ajak rekan-rekan atau keluarga kamu kok. Buat yang sudah mendaftar kita ketemu langsung di museum Bank Indonesia saja ya. Buat yang naik kendaraan umum, kereta listrik atau busway berhenti di Stasiun Kota ya, karena letak museum ini di seberang Stasiun Kota. Okeee ayo buruan daftar yaaa.

Read more

Jurnalis Warga (1) Beda Jurnalis dan Tukang Tulis

0 komentar

Apa beda seorang jurnalis dengan seorang penulis opini, esai, atau penulis surat pembaca? Banyak persamaan di dalamnya, misalnya sama-sama bisa menulis secara runtut dan mudah dipahami. Mereka bisa sama-sama menguasai teknik jurnalistik. Bisa juga sama-sama tahu tentang berbagai teknik penulisan, misalnya "piramida terbalik" atau "jurnalistik sastra" dan sebagainya.

Singkat kata, mereka sama-sama bisa menjadi “tukang membuat tulisan”, apapun bentuknya. Lantas, apa perbedaannya?

Baik, dalam kesempatan ini saya sekadar ingin melengkapi tulisan rekan Anwariansyah dan Yunus Bani Sadar mengenai wartawan warga. Hal itu untuk mempertegas batas antara “wartawan/jurnalis” dan “bukan wartawan/jurnalis”. Pada bagian berikut, saya ingin urun rembug dan sedikit menghibur rekan Yunus Bani Sadar yang merasa galau karena jurnalis warga “tidak diakui” oleh lembaga-lembaga “resmi” semacam lembaga pemerintahan.

Profesi terbuka

Sampai saat ini lapangan jurnalistik merupakan profesi terbuka. Karena sedemikian terbuka, tak salah pula jika ada yang menganggap belum layak disebut sebagai suatu profesi, seperti halnya dokter, pendeta/pastor, notaris dan sebagainya yang memang menempuh pendidikan khusus.

Sebagai profesi yang terbuka, institusi pers (baik cetak maupun elektronik, termasuk online media) menerima tenaga dari berbagai sumber. Persoalannya adalah bahwa masing-masing institusi pers menerapkan standar yang berbeda-beda ketika menerima seseorang sebagai tenaga jurnalis. Meskipun demikian, sesungguhnya ada kapasitas pribadi yang merupakan syarat minimal bagi seorang jurnalis. Hal pertama yang harus disadari adalah bahwa profesi jurnalistik merupakan kerja intelektual (Ashadi Siregar, Peranan Pendidikan Bidang Pers Bagi Generasi Muda, 1987).

Disebut intelektual sebab berkaitan dengan informasi dan alam pikiran. Informasi berasal dari masyarakat dan disampaikan ke dalam alam pikiran anggota masyarakat. Untuk bisa memperoleh informasi, seseorang harus memiliki kepekaan dan kritisisme sosial. Selanjutnya baru ia mengolah informasi itu dalam kaidah-kaidah teknis dan etis untuk nantinya disampaikan melalui medianya. Dan informasi itu akan menyusup ke dalam alam pikiran khalayaknya.

Dari sini dapat dibayangkan bagaimana beratnya pelaku profesi ini. Bandingkan saja dengan dosen perguruan tinggi. Seorang dosen hanya menyampaikan informasi yang berasal dari referensi yang sudah baku kepada sekelompok orang yang jumlahnya terbatas, yang memang berniat untuk mendengar dalam kelas-kelas yang dirancang dengan berbagai fasilitas. Sedangkan pelaku profesi pers harus mencari sendiri informasi itu dari masyarakat, kemudian mengolahnya sedemikian rupa agar menarik (kecuali ingin korannya bangkrut) sehingga informasinya dapat disampaikan pada orang yang tidak terbatas.

Terlebih lagi, khalayak media massa bersifat heterogen. Tingkat intelegensinya juga bermacam-macam. Dalam menghadapi heterogenitas inilah pelaku profesi media massa bekerja. Karena yang disampaikannya berupa informasi, ia harus berada selangkah di depan dibanding dengan khalayak medianya. Inteligensia dari pelaku profesi akan tercermin dalam informasi yang disampaikan oleh institusi media yang sampai pada masyarakat. Seorang pelaku profesi jurnalistik tidak mungkin dan tidak perlu menyamai orang yang punya inteligensia tinggi yang ada dalam masyarakat. Itu tidak mungkin. Yang penting adalah ia tahu informasi macam apa yang diperlukan oleh orang dengan inteligensi yang tinggi itu, dan tahu pula dari mana ia bisa memperoleh informasi tersebut. Dengan kata lain, berada selangkah di depan berarti dapat menjadi mediator yang tepat. Seorang wartawan tidak perlu menjadi doktor, karena tugasnya adalah menjadi mediator dari para doktor atau orang yang inteligensinya tinggi dalam masyarakat. Seorang wartawan tidak menuliskan apa yang ada dalam kepalanya, tetapi menyampaikan apa yang terjadi dalam kehidupan dan alam pikiran orang lain.

Sebagai mediator, pekerja pers memiliki fungsi yang strategis. Informasi yang disampaikannya bukan sekadar komoditi, tetapi juga memiliki makna sosial. Setiap informasi berasal dari masyarakat, baik sosio maupun psiko. Informasi yang bersifat sosio berasal dari perilaku obyektif yang terjadi dalam interaksi sosial, sedang yang bersifat psiko berasal dari dunia subyektif dalam alam pikiran manusia. Kedua sifat informasi ini harus dicari dan diolah oleh seorang wartawan. Masing-masing informasi ini memiliki karakteristik yang berbeda, yang menyebabkan wartawan harus mengembangkan kapasitas yang sesuai.

Dalam mencari realitas sosio dan psiko yang berasal dari masyarakat, dengan sendirinya seorang wartawan memerlukan kapasitas seorang wartawan. Yaitu memiliki kepekaan dan visi sosial. Kepekaan sosial adalah kapasitas diri untuk menerima tanda yang berasal dari kehidupan sosial, sehingga dapat menyerap fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Sedang visi sosial adalah adanya referensi yang dapat digunakan sebagai perbandingan dalam menghadapi fenomena. Di sini realitas sudah diangkat ke tingkat fenomena, yaitu hal yang memiliki makna (meaning) atau nilai (value). Hanya realitas yang memiliki makna atau nilai sajalah yang perlu diolah sebagai informasi yang akan disampaikan melalui media.

Kriteria makna atau nilai dapat ditinjau secara intrinsik dan ekstrinsik. Disebut makna atau nilai intrinsik jika terdapat di dalam realitas itu sendiri, sedang yang bersifat ekstrinsik merupakan makna atau nilai diletakkan atas fungsi yang berasal dari luar realitas itu. Pilihan atas realitas yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kriteria makna atau nilai yang diterapkan oleh seorang wartawan.

Dengan menyadari kapasitas yang mendasari kerja di bidang pers, kiranya dapat dibayangkan pendidikan yang relevan bagi orang yang tertarik ke dunia jurnalistik. Pertama, tentunya adalah pengembangan penalaran, yang merupakan bagian dari pengembangan metode berpikir analitis. Dengan kemampuan ini, seorang wartawan dapat mengenali realitas yang dihadapinya, dengan jalan melakukan kategorisasi dan perbandingan untuk mendapatkan makna atau nilai dari realitas tersebut. Dengan kata lain, penalaran diharapkan dapat menumbuhkan kepekaan sosial dari si wartawan.

Langkah kedua, tentunya pengembangan visi. Untuk itu sejumlah konsep ilmu-ilmu sosial perlu diperkenalkan. Terutama dengan memahami sejumlah grand theory dalam ilmu sosial, seseorang dibekali referensi untuk mengetahui sifat dari fenomena. Grand theory yang menjadi paradigma dalam melihat fenomena, perlu dilengkapi dengan konsep teoritis. Sebagaimana diketahui, konsep teoritis merupakan rangkuman yang diperoleh melalui metodologis dari realitas empiris. Sedang pekerjaan wartawan selamanya menghadapi realitas empiris, karenanya dengan adanya referensi ia akan memiliki visi. Visi seseorang adalah berupa kemampuannya untuk melakukan perbandingan dari sejumlah atau bagian fenomena, dan referensi teoritis dapat membantu dalam perbandingan itu.

Kemampuan bahasa

Jika kapasitas sebelumnya baru merupakan landasan dalam mencari realitas, langkah berikutnya adalah mengolah realitas tersebut. Untuk itu diperlukan penguasaan bahasa. Bahasa adalah cara untuk mewujudkan suatu realitas dalam komunikasi. Untuk wartawan Indonesia, dengan sendirinya bahasa yang mutlak harus dikuasai adalah bahasa Indonesia. Sering orang menanggap sudah menguasai bahasa Indonesia karena sudah digunakan sehari-hari. Penguasaan bahasa Indonesia seseorang tercermin dari kemampuannya untuk menggunakannya secara tertulis, bukan dalam penggunaan lisan sehari-hari. Sudah barang tentu penggunaan bahasa secara tertulis ini berdasarkan standar sosial. Artinya, bahasa yang dituliskan itu memang dapat digunakan sebagai alat komunikasi dengan khalayak luas, bukan untuk pribadi yang sudah saling kenal.

Teknik jurnalistik

Langkah terakhir barulah perlu belajar teknik jurnalisme/jurnalistik. Teknik jurnalisme ini sesungguhnya seperti halnya teknik pertukangan atau teknik menjahit dan sejenisnya. Siapapun bisa menguasainya, meski dengan kemahiran yang tidak sama, apabila telah relatif lama mengenal dan mempraktekkannya. Penguasaan teknik jurnalistik sama sekali tidak ada artinya jika tidak ditopang oleh penalaran dan referensi ilmu sosial. Penalaran dan referensi merupakan landasan untuk mencari apa yang dapat disebut sebagai fenomena. Sedang penggunaan bahasa secara tertulis dan teknik jurnalisme menjadi landasan untuk mengolah apa yang dapat menjadi informasi.

Dalam kaitan inilah saya ingin menyatakan bahwa selama kita hanya menguasai teknik jurnalistik, maka kita belum bisa mengklaim diri sebagai seorang jurnalis. Entah itu jurnalis “mainstream” maupun jurnalis warga.

Lebih dari itu, kalau kita memang telah mampu dan pantas menjadi jurnalis, maka kita tidak perlu berkecil hati menghadapi jurnalis media massa “mainstream”. Faktanya, banyak dari mereka sekadar menguasai teknik jurnalistik tanpa memiliki prasyarat minimal seorang jurnalis. Celakanya, banyak juga yang tidak menguasai teknik jurnalistik sekaligus tidak memiliki kepekaan, visi dan misi sosial yang seharusnya dimiliki seorang jurnalis.

oleh: Duto Sri Cahyono

(Bersambung)

Read more

Susah Nulis? Ikuti Mentoring Menulis ala Wikimu !

1 komentar
Teman-teman,

Wikimu.com hendak mengadakan kegiatan baru untuk meningkatkan kemampuan tulis menulis bagi anggota Wikimu. Bentuknya adalah sebuah mentoring singkat, dalam menulis tema tertentu. Mengingat kesibukan masing-masing, maka kegiatan ini dilakukan 100% lewat online.

Mentoring Menulis via Online ini dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Dan ini bukanlah pelatihan, namun sifatnya lebih sharing pengalaman dari penulis/mentor yang sudah mempunyai 'jam terbang' menulis tema tertentu. Diharapkan dengan adanya sharing dan diskusi lebih intensif, teman-teman yang mengikuti mentoring menulis ini akan mendapat hal-hal baru dan inspiratif untuk menulis yang lebih baik.

Ada beberapa tema mentoring yang ditawarkan :

  • Menulis Kegiatan Seni, mentor : Retty N Hakim

  • Menulis Topik Pemilu, mentor : Yulius Haflan dan Bayu Wardhana

  • Menulis Wisata Kuliner, mentor : Phil Lea dan Yusuf Iskandar

  • Menulis Wisata Jalan-jalan/Tamasya, mentor : Yusuf Iskandar dan Wisnuhardana

  • Menulis Topik Lingkungan, mentor : Wisnuhardana dan Edy Hendras W

Kelima tema di atas, digelar antara pertengahan Desember 2008 sampai pertengahan Januari 2009. Lalu tema yang lain:

Menulis Topik Kesehatan, mentor : Lita Mariana

  • Menulis Sains/Iptek, mentor : Ony Suryaman

  • Menulis Konflik Multikultur, mentor : Bayu Wardhana

Ketiga tema di atas dilakukan awal sampai akhir Januari 2009.

Gambaran kegiatannya adalah, satu mentor akan membantu maksimal 10 orang. Di awal, mentor akan mengirimkan makalah/tulisan singkat mengenai tips menulis tema yang diampu. Lalu peserta diharapkan menulis satu artikel (baru, bukan daur ulang) tentang tema tersebut dan ditayangkan di Wikimu.com. Mentor akan memberikan feedback/masukan/kritik kepada penulis via milis khusus (sesuai tema).

Lalu setiap peserta mendapat kesempatan memperbaiki tulisan dengan membuat topik yang berbeda dan diposting di Wikimu.com. Untuk kedua kalinya, mentor akan memberikan feedback/masukan/kritik pada tulisan kedua. Lalu proses mentoring selesai. Milis khusus tema tertentu pun akan dibubarkan / delete oleh admin Wikimu.com.

Kenapa lewat milis? Alasan pertama, agar masukan dari mentor lebih terbatas. Karena tidak semua orang suka dikritik di depan umum, seperti di web/situs atau milis terbuka. Kedua, meskipun terbatas, diharapkan lewat milis, peserta yang lain pun bisa belajar dari masukan-masukan yang ada, dan syukur-syukur terjadi diskusi antar peserta.

Semua proses ini diharapkan selesai selama kurang lebih satu bulan. Bila ada peserta dalam satu bulan tersebut menulis satu artikel, tentu hanya mendapat satu kali feedback saja. Begitu sebaliknya, dalam satu bulan, seorang peserta bisa membuat lebih dari 2 (3,4 artikel), maka mentor hanya akan memberi masukan di 2 artikel pertama.

Syarat dan aturan :

  1. Peserta mentoring adalah anggota Wikimu.com.

  2. Anggota Wikimu.com memilih tema (maupun mentornya, bila tersedia lebih dari satu). Disarankan anggota tidak memilih lebih dari 3 tema, demi kebaikan anggota sendiri agar lebih intens dalam mentoring.

  3. Setelah memilih, lalu mendaftar via email ke : info@wikimu.com . Maaf, hanya yang mendaftar ke email yang kami perhitungkan. Pendaftaran via sms atau menulis di kolom komentar tidak kami hitung.

  4. Untuk mengikuti mentoring ini, anggota Wikimu dikenakan biaya Rp 50.000,00 / tema, sebagai bentuk apresiasi pada para mentor. Setelah mendaftar via email info@wikimu.com , kami akan kirimkan no rekening untuk transfer. Peserta yang kami terima di setiap tema/mentor, adalah mereka yang 10 orang yang terlebih dahulu transfer.

  5. Setiap mentor, hanya akan membantu 10 anggota. Bila sebuah tema, lebih dari satu mentor dan pendaftar berlebih dari 10 orang, maka akan ditawarkan ke mentor yang lain.

  6. Pendaftaran dan transfer biaya dibuka mulai 5 Desember 2008 sampai 15 Desember 2008 (pk 24.00 WIT/23.00 WITA/22.00 WIB). Mentoring secara umum dimulai 17 Desember 2008 sampai satu bulan. Namun mulai persisnya (pengiriman makalah dari mentor), tergantung dari mentor masing-masing tema. Secara keseluruhan, diharapkan Mentoring Menulis via Online ini sudah selesai pada akhir Januari 2009.

Demikian kegiatan ini ditawarkan kepada seluruh anggota Wikimu.com. Untuk profil para mentor maupun karya-karya tulisannya, silakan liat di profil anggota Wikimu.com.

Read more

Malang - Menyusuri, Mengikuti Kata Hati

0 komentar

enulis resensi buku Malang, menelusuri dengan hati, saya menemukan wilayah yang samar-samar dalam ingatan. Kunjungan Sabtu malam Minggu (22 November 2008) kemarin, saya upayakan mewujudkan keingintahuan. Niat ingsun ke Malang memang menengok adik landes ayah saya yang baru saja operasi mata kanan, karena glaukom. Terkabar masih merasakan nyeri, dan karena kompetensi saya di wilayah nyeri, maka kunjungan dirancang.

Splendid

Ternyata Splendid itu daerah yang sering saya lalui kalau ke Malang, karena saya menginap di daerahsetelah Rampal. Saya selalu menyusuri Kayutangan dari arah Surabaya, jumpa perempatan, yang ada toko Lido, ke kiri, melewati jembatan, nah, itu rupanya Splendid. He he, kalau itu, setiap ke Malang saya lewat.

Ketika di jembatan saya menengok kekanan, ada ceruk yang dilalui Kali Brantas, terbaca tulisan TK dan SD Brawijaya. SayaTK bersekolahdi situ.Saya meminta “sopir” pribadi , yang dokter, dosenfakultas kedokteran Unibraw, segera belok kanan setelah jembatan. Ketemulah pasar bunga. Wah, saya tidak ingat kalau ini. Saya hanya samar ingat sekolah saya di ceruk, kalau turun saya digendong ayah saya. Di sudut jalan ada Kodim (kalau tak salah), dulu ayah saya menyalurkan hobby jadi komandan di situ, kayaknya dulu sih KMK (?). Dongengnya lho.

Stasiun Malang -Lapangan Rampal

Menikung, langsung jumpa Tugu, dengan hotel Tugu, dan Balai Kota. Dulu ibu saya kuliah di salah satu gedung di situ. Memutar ke arah setasiun, lho, hampir tak saya kenali, tulisan besarnya kok Universitas, eh, rupanya jadi tempat pasang iklan. Saya foto sambil lewat. Kemudian ke kiri, jumpa lapangan Rampal, saat kunjungan lalu saya jumpai pagar baru, kini aneka fasilitas olah raga dibangun di dalamnya.

Minggu esoknya, saat saya lewat lagi, saya lihat ramai sekali, rupanya kalau Minggu dijadikan pasar “tiban” dengan tenda-tenda. Sepupu yang jadi sopir saya, tak nyaman lagi mendorong cucu di Minggu pagi. Rame memang, plus aneka makanan di pinggir jalan.

Graha Cakra

Minggu pagi , setelah melewati Rampal yang penuh sesak, menuju jalan Bogor, saya minta lewat Hotel Cakra, difoto lama ada foto ayah ibu dansa di situ, dulu Societet rupanya. Bung Karno melarang dansa- dansi, yang boleh tari lenso dan sejenisnya, saya anak TK yang menari serampang duabelas, belajarnya di situ. Kalau ada tamu londo (bule), yang bernostalgia, saya diminta menari. Gedung ini sempat jadi RRI (Radio Republik Indonesia), ibu saya mengisi acara, cerita tentang Irian (Papua kini). He...he..., sebelum siaran, saya sudah “mendengarkan”, ibu latihan berkali-kali, saya pendengarnya.Setelah jadi Graha Cakra, kami pernah menginap, eh, lantainya yang kotak-kotak hitam–putih tetap dipertahankan.

Toko Oen

Siangnya, setelah mengunjungi eyang di jalan Bogor saya minta ke Toko Oen, ada yang belum saya pesan saat berkunjung beberapa bulan sebelumnya, Huzaren zla. Kami lewat Talun, agar Oen ada di sisi kiri jalan. Keluar Talun, langsung belok kiri, nah masuk toko Oen. Salad, segera dipesan, sambil menunggu, kami pesan lumpia, rasa jadul betulan, hmmm. Tidak lupa ice crean Tuti Fruti. Life music ternyata tiap hari, siang dan malam, lagu-lagu lama, asyiik. (Ssst, asyik lagi,ditraktir bu Imam, istri sepupu saya yang Obgyn)

Toko kue E&H, dan tempatku dikeritingin

Saya dapat berita, toko kue Enak dan Harum masih ada, tetap disingkat E&H. Dari Oen menyusur Kayutangan, menuju toko E&H. Saya minta singgah, wah tutup, namun saya intip, rotinya sama seperti yang saya dapat dari pak Iskak atau Mr Tan.

Ada salon, satu gedung. Ternyata ingatan saya benar juga, saya ingat, saat kecil, dikeritingkan di salon , dekat E&H. He..he..., apa ya yang dipikirkan ibu saya, kok saya dikeritingkan. Dulu kan alat pengeritingnya dipanasi dulu, baru ditempelkan ke rambut. Kejadianlah tengkuk saya ke-nyos... Wah, semalaman saya dipeluk ibu. Yang nangis ibu, saya sih happy saja, dihadiahi coklat.

Kunjungan ke Malang sukses, pulang membawa 300 butir bakso, dan 20 mangga kebun sepupu . Plus foto bunga anggrek. Berhasil membuat tante saya keluar rumah, setelah 3 bulan “males” keluar.

oleh: Nury Nusdwinuringtyas

Read more

Candi "Badut", Candi Tertua di Jawa Timur

0 komentar
Candi Badut....? Pertama kali mendengar namanya saya bertanya-tanya, candi beneran? Kok namanya Badut..? Sebetulnya sudah agak lama saya mendengar nama candi ini dan saya lahir dan lama tinggal di Malang, tetapi baru minggu lalu saya sempatkan untuk berkunjung ke sana. Ini pun karena tidak sengaja waktu ke rumah teman ternyata lokasi candi tersebut hanya beberapa blok dari rumah teman. Lokasinya berada di tengah-tengah perumahan penduduk, masuk ke gang kecil, orang pasti tidak mengira kalo di gang tersebut terdapat peninggalan sejarah yang sangat berharga.

Secara administratif candi badut terletak di desa Karang Besuki, kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini berdiri diatas tanah seluas 2808 m2. Dikelilingi oleh gunung Kawi (Selatan), gunung Arjuna (barat), Gunung Tengger (utara) dan Gunung Semeru (Timur).

Menurut keterangan yang tertulis di situ dulu candi ini dikelilingi oleh pagar temboki yang sekarang hanya tinggal sisa-sisa pondasinya. Terbuat dari batu andhesit, berdenah empat persegi yang berukuran 17,27 m x 14,04 m dengan tinggi 8 m, menghadap ke Barat.

Candi tersebut merupakan candi tertua di Jawa Timur, didirikan pada tahun 760 M. Awalnya candi tersebut tertimbun tanah dan ditumbuhi oleh pohon besar di tengah-tengah sawah. Ditemukan oleh EW Mauren Brechter pada tahun 1991. Melihat dari foto pada saat pertama kali ditemukan, sungguh mengenaskan sekali. kemudian candi tersebut mengalami pemugaran 2 kali, yaitu pada tahun 1925-1926 dan tahun 1990-1991.

Melihat dari arca yang ada, yaitu durga, agastya dan lingga yoni candi tersebut merupakan candi yang bersifat Hindu. Arsitektur candi terdiri dari kaki, tubuh dan atap. Bagian depan terdapat undakan menuju bilik candi. Sebelum masuk ke bilik terdapat Selasa Pradaksi napatha (tempat mengelilingi candi muda) dari arah kiri ke kanan. Bagian tubuh tampak tambun, pintu masuk berhias kalamakara, yang merupakan gaya seni Jawa Tengah. Di dalam bilik terdapat lingga dan yoni.

Ayo kita lestarikan peninggalan-peninggalan berharga nenek moyang kita.
Sumber: http://nanditazahra.blogspot.com/

Read more

Buku Tamu

:Wikimu - bisa-bisanya kita.../ Gelang merah untuk anak Indonesia

Bening CS© 2011 Design by Insight